Rabu, 14 November 2012

Lokomotif CC 201 ala CC 203



           Jika sahabat railfan sempat menyambangi jalur Lampung-Kertapati di Sumatera Selatan (Sumsel), sahabat railfan akan dapat melihat lokomotif hidung miring berwarna merah seperti lokomotif CC 203 atau CC 204 di Jawa. Sepintas lokomotif tersebut sangat mirip dengan CC 203 atau CC 204. Akan tetapi jika diamati dengan seksama nameplate-nya pasti sahabat railfan akan terkaget-kaget, karena lokomotif tersebut adalah lokomotif CC 201. Asli! Dan hanya ada di Sumatera.
          Di Divisi Regional (Divre) III Sumsel , memang ada beberapa lokomotif CC 203. Lokomotif CC 201 unik berhidung miring ala lokomotif CC 203 ini jumlahnya ada 7 unit, yaitu: CC 201 86 R, CC 201 87 R, CC 201 111 R, CC 201 120 R, CC 201 129 R, CC 201 130 R, dan CC 201 137 R. Lokomotif yang dirubah bentuk hidungnya dari menonjol menjadi miring aerodinamis ini karena lokomotif tersebut mengalami kcelakaan berat alias PLH. Alasan lain barangkali karena PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre III Sumsel tidak kebagian lokomotif sekelas CC 203. Modifikasi hidung miring dilakukan secara bertahap di Balai Yasa Lahat antara tahun 1994 hingga 2001.
          Sebagai catatan, meski PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre III Sumsel tidak memiliki lokomotif CC 203,namun lokomotif buatan General Electric, Amerika Serikat ini, masih bisa ditemukan mondar-mandir antara Niru (Sumsel)- Tarahan (Lampung). Jumlahnya hanya ada 4 unit, dan semuanya milik PT Tanjung Enim Lestari (PT TEL). Keempat lokomotif CC 203 tersebut bernomor 31, 32, 33, dan 34. Meski milik swasta, PT Kereta Api Indonesia (Persero) tetap menjadi operasionalnya. Lokomotif  tersebut kini seragamnya bukan putih bergaris biru lagi, tapi hijau bergaris merah dan kuning.



          Modifikasi hidung miring yang terilhami dari CC 203, juga bertujuan mengurangi hambatan angin untuk meningkatkan kecepatan. Namun tujuan peningkatan ini terasa percuma karena kecepatan kereta api Babaranjang (Batubara rangkaian panjang) saat ini dibatasi maksimalnya 80 km/jam. Modifikasi ini pun dirasakan sedikit menyulitkan masinis. Karena kabin yang sempit dan kaca depan terlalu tinggi, masinis terpaksa mendongak atau mengganjal tempat duduknya ketika sedang menjalankan lokomotif.
          Lokomotif CC 201 hidung miring di Dipo Induk Lokomotif Tanjung Karang seluruhnya dipergunakan untuk dinasan menarik KRD Ruwa Jurai bila mesinnya bermasalah. Sedangkan lokomotif CC 201 hidung miring di Dipo Induk Lokomotif Kertapati seluruhnya dioperasikan untuk kereta penumpang, diantaranya Limeks Sriwijaya, Rajabasa, Sindang Marga, dan Serelo.

1 komentar: